Blog Edwin Suryadi adalah tempat di mana pembelajaran menjadi petualangan. Temukan tips, trik, dan sumber daya menarik untuk meningkatkan potensi belajar.
Dulu kami duduk di bangku ini, menggoreskan cerita di balik meja kayu tua, tertawa di sela tugas yang menumpuk, menyimpan resah dalam diam saat masa depan tampak samar.
Kini, wajah-wajah itu telah pergi, menyusuri jalan takdir yang berbeda, menjadi bagian dari dunia luas yang dulu hanya kami bayangkan dari jendela kelas.
Tapi ruang ini tak pernah benar-benar kosong, selalu ada tawa baru yang mengalun, selalu ada mimpi lain yang ditanamkan, selalu ada guru yang tak pernah lelah memberi nyala.
Waktu boleh berganti musim, nama-nama di absensi boleh berubah, tetapi kenangan— ia tetap tinggal, bernafas di tiap sudut tembok, menyatu dalam lantai dan langit-langit yang diam.
Kelas XII-4 bukan sekadar ruang, ia adalah saksi bisu tumbuhnya harapan, ia menyimpan jejak langkah kami, dan kini, ia menjadi tempat tumbuh bagi mereka— adik-adik yang melanjutkan kisah.
Wahai para guru, terima kasih karena tetap bertahan, menjadi pelita meski minyak hampir habis, karena tanpamu, ruang ini hanyalah kosong belaka.
Dan untuk kalian yang pernah duduk di sini, jangan lupa pulang—meski hanya dalam kenangan. Karena kelas ini akan selalu rindu, pada tawa dan air mata yang pernah kalian titipkan.
Di ruang kecil penuh cerita, aku berdiri, bukan sekadar mengajar, tapi menjaga nyala api kecil dalam jiwa anak-anak bangsa.
Dunia boleh berubah rupa, kurikulum datang dengan nama-nama baru, teori dan metode berganti wajah, kepala sekolah silih berganti jejak, namun semangat ini tetap utuh— tak lapuk dimakan waktu.
Di atas meja, berjejer kertas harapan, dan di tengahnya, sebuah helm biru diam menatap, ia bukan sekadar pelindung kepala, ia saksi bisu perjuangan, teman setia kala hujan dan panas menyapa.
Helm itu, lebih dari sekadar barang— ia lambang keteguhan, bahwa aku akan tetap datang, mengayuh sepeda motor menyusuri jalan pendidikan, tanpa pamrih, tanpa henti.
Wahai dunia, kau boleh menulis ulang sejarah, tapi ingatlah, selalu ada guru di ruang sunyi, yang tak pernah lupa makna tanggung jawab, yang akan terus hadir— selama helm itu masih kugantungkan di sisi mejaku.
Setelah mengikuti in house training di Pamekasan beberapa hari yang lalu, saya mendapat kepercayaan dari Ketua MGMP Bahasa Inggris SMA Kabupaten Sumenep untuk membagikan kembali materi yang saya peroleh kepada rekan-rekan guru di daerah. Kesempatan itu terlaksana pada Kamis, 22 Mei 2025, bertempat di SMA Plus Miftahul Ulum, Kecamatan Kota Sumenep.
Kegiatan ini dihadiri oleh guru-guru bahasa Inggris tingkat SMA, baik negeri maupun swasta, dari berbagai sekolah di lingkungan Kabupaten Sumenep. Suasananya akrab, penuh semangat, dan terasa sebagai forum yang tepat untuk saling belajar dan berbagi.
Materi yang saya sampaikan merupakan hasil dari pelatihan bertajuk “Unlocking English Language Learning with Deep Learning Approach: Exploring the Possibilities” yang diselenggarakan di Pamekasan pada 20 Mei lalu. Pelatihan tersebut menghadirkan Bapak Moh. Kusen, M.Pd sebagai narasumber—beliau merupakan Ketua MGMP Bahasa Inggris Provinsi Jawa Timur sekaligus pendamping satuan pendidikan Kota Kediri.
Dalam diseminasi ini, saya mencoba mengajak teman-teman guru untuk melihat kembali bagaimana kita mendesain pembelajaran bahasa Inggris—apakah sudah cukup mendalam, atau masih berada di tataran hafalan dan latihan rutin? Pendekatan deep learning menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar penguasaan materi. Ia menekankan pemahaman yang utuh, pemikiran kritis, dan keterampilan reflektif yang membuat siswa tidak hanya tahu, tapi juga memahami dan bisa menerapkan pengetahuannya dalam konteks nyata.
Kami mendiskusikan bagaimana membedakan pembelajaran yang dangkal dengan yang benar-benar mendalam, serta bagaimana menyusun aktivitas belajar yang dapat memancing siswa untuk berpikir lebih kritis, menganalisis, hingga menyampaikan gagasannya dengan orisinal. Saya juga berbagi beberapa contoh RPP yang dirancang dengan prinsip-prinsip pembelajaran mendalam, termasuk proyek kelas, penugasan berbasis teks autentik, serta penggunaan pertanyaan terbuka yang merangsang diskusi.
Yang membuat saya pribadi senang adalah bagaimana peserta aktif merespons dan terlibat dalam diskusi. Banyak pertanyaan menarik muncul—mulai dari teknis implementasi di kelas dengan jumlah siswa besar, hingga bagaimana membuat penilaian yang sesuai dengan karakter pendekatan ini. Beberapa guru juga berbagi cerita tentang praktik yang ternyata sudah mengarah ke pendekatan mendalam, meskipun belum menggunakan istilah “deep learning”. Diskusi seperti ini sangat memperkaya dan membuka perspektif baru bagi kita semua.
Saya percaya bahwa kegiatan seperti ini sangat penting untuk memperkuat komunitas guru yang terus tumbuh dan belajar. Diseminasi bukan hanya soal menyampaikan ulang materi, tetapi tentang bagaimana membangun ruang kolaborasi, menyamakan visi, dan saling mendukung untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas masing-masing.
Semoga pendekatan deep learning ini bisa menjadi alternatif yang relevan dan aplikatif dalam pengajaran bahasa Inggris di Sumenep. Setiap guru tentu memiliki konteks dan tantangannya sendiri, tapi dengan semangat saling berbagi, kita bisa saling menguatkan untuk terus berkembang.
Semoga catatan ini bisa menjadi inspirasi kecil bagi rekan-rekan guru lainnya. Karena dalam dunia pendidikan, belajar tidak berhenti di bangku sekolah—belajar terus berjalan, setiap hari, bersama mereka yang satu visi: ingin membawa perubahan.
Tanggal 20 Mei 2025 menjadi momen penting bagi para guru bahasa Inggris di wilayah Madura. Bertempat di Front One dan Azana Style Hotel, Pamekasan, diselenggarakan sebuah in house training bertajuk “Unlocking English Language Learning with Deep Learning Approach: Exploring the Possibilities.” Tema ini mengajak para peserta untuk menggali lebih dalam potensi pendekatan pembelajaran yang mendalam dalam konteks pengajaran bahasa Inggris.
Narasumber utama dalam kegiatan ini adalah Bapak Moh. Kusen, M.Pd—Ketua MGMP Bahasa Inggris SMA Provinsi Jawa Timur sekaligus pendamping satuan pendidikan di Kota Kediri. Beliau membagikan wawasan dan strategi bagaimana penerapan pendekatan deep learning mampu menciptakan proses pembelajaran yang tidak hanya menekankan penguasaan materi secara kognitif, namun juga membangun kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan kontekstual pada peserta didik.
Awalnya, acara ini dijadwalkan akan dibuka oleh Bapak Slamet Gustiantoko, M.Si, selaku Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kabupaten Pamekasan. Namun karena suatu hal, beliau berhalangan hadir dan sambutan pembuka diwakilkan oleh Kasubag Cabang Dinas Pamekasan. Meskipun demikian, semangat dan pesan yang disampaikan tetap memberi dorongan kuat bagi para peserta untuk mengikuti kegiatan dengan antusias.
Lebih dari 60 guru bahasa Inggris tingkat SMA dan SMK dari seluruh wilayah Madura turut hadir dalam pelatihan ini. Kehadiran mereka mencerminkan antusiasme yang tinggi terhadap upaya peningkatan kompetensi dan pembaruan metode pembelajaran. Salah satu perwakilan dari MGMP Bahasa Inggris SMA Kabupaten Sumenep juga turut hadir untuk mengikuti kegiatan ini bersama rekan-rekan seprofesi.
Kegiatan dimulai pukul 08.00 pagi dan berlangsung hingga pukul 13.30. Suasana pelatihan berlangsung dinamis dan komunikatif. Penyampaian materi yang interaktif membuat peserta aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman praktik pembelajaran di kelas masing-masing. Banyak ide segar dan pendekatan inovatif yang dibagikan, khususnya bagaimana membuat pembelajaran bahasa Inggris menjadi lebih bermakna bagi siswa.
Kegiatan ini tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga membangun semangat kolaborasi antarguru. Pendekatan pembelajaran mendalam yang dikenalkan dalam pelatihan ini diharapkan dapat diterapkan secara nyata di kelas, dengan tujuan utama meningkatkan kualitas proses belajar dan hasil belajar peserta didik.
Semoga kegiatan pelatihan semacam ini terus digelar secara berkesinambungan, sebagai bagian dari pengembangan profesionalisme guru dan peningkatan mutu pendidikan di wilayah Jawa Timur, khususnya di pulau Madura.
Untuk sahabat pembelajar di manapun berada, semangat untuk terus belajar dan berbagi tidak pernah lekang oleh waktu. Pendekatan yang tepat dalam mengajar bukan hanya soal metode, tapi juga soal niat untuk membawa perubahan yang lebih baik bagi masa depan pendidikan.
Aku pernah muda… seperti kalian, berjalan gagah dengan mata penuh cahaya harapan. Langit terasa dekat, bumi seolah bisa kugenggam, dunia kulukis dengan warna impian yang berani.
Aku pernah muda… seperti kalian, mengukir cita di ujung pena, berkata lantang ingin mengubah dunia, menyulam idealisme menjadi bintang di dada.
Aku pernah muda… seperti kalian, mengira waktu tak akan pernah kehabisan detik, menganggap hari tua hanyalah legenda, bab akhir yang belum layak dibaca.
Namun kini aku tahu... masa depan kadang hanyalah fatamorgana, indah di kejauhan, namun sirna saat didekati tanpa makna. Dan yang sejatinya abadi bukan nama, bukan pujian manusia, melainkan seberapa tulus niat yang kita bawa, seberapa ikhlas amal yang tak disaksikan siapa-siapa, dan seberapa dalam kita mengingat Tuhan di tengah riuhnya dunia yang fana.
Aku pernah muda… seperti kalian, dan kini kujalani hari dengan rambut yang mulai beruban, dengan langkah yang tak secepat dulu, namun hatiku masih ingin berlari.
Aku pernah muda… seperti kalian, dan kini aku paham: hidup bukan soal seberapa tinggi kita terbang, tapi seberapa banyak jejak yang meninggalkan kebaikan. Bukan seberapa terang kita bersinar, tapi seberapa lama cahaya itu dikenang saat kita telah tiada.
Aku pernah muda… seperti kalian, dan di usia senja ini, aku tak lagi mengejar dunia— aku hanya ingin dikenang sebagai pelita, yang menyala meski tak lagi tampak cahaya.
Dalam dunia pendidikan, menjadi pendidik yang efektif tidak hanya terbatas pada kemampuan mengajar di kelas, tetapi juga melibatkan proses belajar yang berkelanjutan, refleksi terhadap diri sendiri, dan kolaborasi dengan sesama pendidik. Melalui kisah Ibu Hani, seorang guru di sekolah pesisir pantai, kita dapat belajar bagaimana pentingnya menjadi pendidik yang reflektif, gemar belajar, berbagi, dan berkolaborasi.
Refleksi Diri: Kunci Pengembangan Diri Seorang Guru
Ibu Hani adalah contoh sempurna dari pendidik yang reflektif. Sebagai guru yang mengajar tentang konsep pesawat sederhana, Ibu Hani mengamati keadaan sekitar untuk menemukan alat peraga yang dapat membantu murid-muridnya memahami materi dengan lebih baik. Ketika ia melihat nelayan di sekitar pantai sedang menyiapkan alat-alat untuk menangkap ikan, ia memperhatikan bahwa salah satu alat yang digunakan memiliki prinsip yang sama dengan pesawat sederhana. Dengan penuh rasa ingin tahu, Ibu Hani meminjam alat tersebut untuk digunakan di kelasnya.
Namun, pembelajaran tidak berhenti setelah proses mengajar selesai. Ibu Hani meluangkan waktu untuk melakukan refleksi terhadap cara mengajarnya. Ia merenungkan apa yang telah berjalan baik dan apa yang perlu diperbaiki agar pembelajaran yang dilakukan dapat memenuhi kebutuhan murid secara lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa refleksi diri adalah bagian penting dalam profesi seorang guru, karena hanya dengan memahami kekuatan dan kelemahan dalam mengajar, seorang guru dapat terus berkembang.
Gemar Belajar: Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat
Tidak hanya pada saat mengajar, seorang pendidik juga harus menjadi pribadi yang gemar belajar. Sebagai contoh, Ibu Hani tidak hanya bergantung pada buku teks atau alat-alat peraga yang terbatas, tetapi juga mencari sumber belajar lain yang relevan. Ia menjadi bagian dari komunitas belajar guru-guru di sekitarnya, di mana mereka saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Ibu Hani tidak takut untuk belajar dari para nelayan, dan itu menunjukkan bahwa seorang guru harus terbuka terhadap sumber pembelajaran dari mana saja, baik itu dari lingkungan sekitar atau pengalaman orang lain.
Sebagai pendidik, penting untuk terus memperbaharui pengetahuan dan keterampilan agar dapat memberikan pengalaman belajar yang terbaik bagi murid-murid. Inilah yang dimaksud dengan pembelajaran sepanjang hayat. Untuk itu, kepala sekolah juga memainkan peran penting dalam mendorong para guru untuk terus belajar, misalnya dengan membentuk kelompok belajar di sekolah, seperti kelompok belajar guru matematika. Dalam kelompok belajar ini, guru dapat saling berkolaborasi untuk menciptakan materi pembelajaran yang lebih efektif dan menarik.
Berbagi dan Berkolaborasi: Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Dinamis
Selain belajar, berbagi dan berkolaborasi dengan sesama pendidik juga sangat penting dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang dinamis. Seperti yang dilakukan oleh Ibu Hani, ia aktif bergabung dalam komunitas guru yang mengadakan pertemuan rutin untuk mendiskusikan berbagai hal terkait dunia pendidikan. Dengan berbagi pengalaman dan memberi dukungan satu sama lain, para guru dapat saling menginspirasi dan memperkaya wawasan mereka.
Untuk mendorong hal ini di sekolah, kepala sekolah dapat mengorganisir kegiatan kolaborasi antar guru, seperti pertemuan rutin atau kelompok belajar berdasarkan mata pelajaran tertentu. Kolaborasi ini dapat membantu guru saling mendukung, berbagi ide, dan mengatasi tantangan dalam pembelajaran.
Menjadi Pendidik yang Reflektif, Gemar Belajar, dan Kolaboratif
Berikut adalah beberapa hal yang bisa Bapak dan Ibu terapkan untuk menjadi pendidik yang reflektif, gemar belajar, dan kolaboratif:
Luangkan Waktu untuk Belajar
Meluangkan waktu untuk membaca buku, artikel, atau menonton video pembelajaran dapat memperluas wawasan Anda. Setelah itu, lakukan refleksi terhadap metode pengajaran yang telah Anda gunakan dan carilah cara untuk memperbaikinya.
Mulailah dari Hal yang Sederhana
Mulailah dengan langkah kecil, seperti membaca satu artikel per hari atau satu video pembelajaran per hari. Jangan lupa untuk menulis refleksi tentang hal-hal yang telah Anda lakukan, apa yang sudah berhasil, dan apa yang perlu dikembangkan.
Bergabung dengan Komunitas Belajar
Jangan ragu untuk bergabung dalam komunitas guru di sekitar Anda. Dengan berbagi pengalaman dan saling memberi masukan, Anda dapat berkembang bersama rekan-rekan sejawat.
Terbuka terhadap Umpan Balik
Terbukalah dengan umpan balik dari berbagai pihak, baik dari murid, rekan guru, maupun kepala sekolah. Umpan balik ini dapat memberi Anda perspektif baru yang berharga untuk merencanakan pengembangan diri.
Bayangkan Sekolah yang Semua Gurunya Gemar Belajar
Jika seluruh guru di sekolah memiliki semangat untuk belajar, berpikir reflektif, dan berkolaborasi, tentu sekolah akan menjadi tempat yang lebih dinamis dan inovatif. Dengan kolaborasi yang terjalin dengan baik, setiap guru dapat saling mendukung untuk memberikan pendidikan yang berkualitas yang membantu murid mencapai potensi terbaik mereka.
Dari ketiga tips di atas, kira-kira mana yang ingin Bapak dan Ibu coba terlebih dahulu? Mulailah dengan langkah kecil dan konsisten, karena dengan berproses secara terus-menerus, kita semua bisa menjadi pendidik yang lebih baik untuk generasi mendatang.
Selamat mencoba dan terus bersemangat dalam belajar!