Jumat, 22 Desember 2023

Hakekat Asesmen: Orang yang Menguasai Materi Menyetir Mobil, Apa Langsung Bisa Menyetir Mobil? - Ibu Itje Chodidjah

 


Saya bersyukur sekali bisa menyimak ceramah yang sangat menginspirasi dari Ibu Itje Chodidjah di kantor BBGP Provinsi Jawa Timur, Batu, Malang. Dalam kesempatan tersebut, Ibu Itje berbicara mengenai hakekat asesmen dalam pembelajaran, dan betapa pentingnya kita memahami bahwa asesmen lebih dari sekadar mengukur penguasaan materi. Dengan analogi yang cerdas, beliau menggambarkan bagaimana orang yang hanya menguasai teori menyetir mobil belum tentu langsung bisa menyetir mobil.

Asesmen Berfokus pada Feedback, Bukan Sekadar Tes

Ibu Itje memulai dengan menjelaskan bahwa asesmen dalam pembelajaran seharusnya berfokus pada feedback atau umpan balik. “Asesmen bukan milik kurikulum tertentu, seperti Kurikulum Merdeka, tapi milik pembelajaran di seluruh dunia,” ujar Ibu Itje. Bentuk asesmen bisa bermacam-macam—tes, aktivitas, atau kuis—yang tujuannya adalah menjajaki sejauh mana kompetensi siswa telah terbentuk, bukan sekadar mengukur penguasaan materi.

Dalam kurikulum sebelumnya, banyak sekolah yang hanya fokus pada penilaian akademik dan penguasaan materi. Hal ini seringkali membuat guru terjebak dalam memberikan nilai berdasarkan apa yang bisa dihafalkan siswa, bukan pada kemampuan mereka menerapkan apa yang sudah dipelajari. Padahal, asesmen yang baik harus mengevaluasi kompetensi, bukan hanya hasil dari hafalan materi.

Perbedaan Penguasaan Materi dan Kompetensi

Ibu Itje juga menjelaskan dengan gamblang perbedaan antara penguasaan materi dan pencapaian kompetensi. Menurutnya, "Penguasaan materi belum tentu menunjukkan bahwa siswa telah mencapai kompetensi yang diharapkan." Misalnya, seorang siswa mungkin bisa menjelaskan teori pola hidup sehat, namun apakah mereka bisa mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari? Hal inilah yang menjadi esensi dari asesmen—melihat sejauh mana siswa mampu menerapkan pengetahuan yang mereka miliki dalam konteks nyata.

Seperti analogi sederhana yang beliau sampaikan, menguasai teori tentang cara menyetir mobil belum tentu membuat seseorang langsung bisa mengendarai mobil. Dalam konteks pembelajaran, penguasaan materi hanyalah bagian kecil dari keseluruhan kompetensi yang harus dicapai. Asesmen seharusnya mencakup lebih dari itu, yaitu kemampuan siswa untuk berpikir kritis, berkomunikasi, dan menerapkan konsep yang telah dipelajari.

Asesmen dan Tujuan Pembelajaran: Dua Sisi dari Koin yang Sama

Ibu Itje juga mengingatkan bahwa asesmen tidak bisa dipisahkan dari tujuan pembelajaran. "Asesmen tanpa tujuan pembelajaran yang jelas bukanlah asesmen," tegas beliau. Dalam hal ini, tujuan pembelajaran adalah rujukan utama untuk melakukan asesmen, bukan materi ajar. Setiap asesmen harus bisa memberikan umpan balik yang berguna bagi siswa untuk memperbaiki dan mengembangkan kompetensinya.

Selama bertahun-tahun, kita sering terjebak pada penguasaan materi karena keberadaan ujian-ujian besar seperti Ujian Nasional. Hal ini, menurut Ibu Itje, telah menjebak sistem pendidikan kita sehingga lebih fokus pada hasil daripada proses. Padahal, yang seharusnya kita utamakan adalah bagaimana siswa bisa belajar dan berkembang secara komprehensif, tidak hanya pada kemampuan akademik tetapi juga dalam keterampilan dan sikap.

Mengubah Paradigma: Asesmen Sebagai Proses Pembelajaran

Dalam ceramahnya, Ibu Itje juga menekankan bahwa asesmen bukanlah sesuatu yang hanya dilakukan di akhir pembelajaran, tetapi harus menjadi bagian dari proses belajar itu sendiri. "Asesmen adalah proses untuk terus memberikan feedback kepada siswa sepanjang perjalanan pembelajaran mereka," ujar beliau. Dengan asesmen yang terus-menerus dilakukan, guru bisa mengetahui kompetensi mana yang sudah tercapai dan mana yang masih perlu diperbaiki. Bahkan, asesmen bisa dilakukan tanpa siswa menyadari bahwa mereka sedang dinilai, seperti dalam permainan atau aktivitas belajar sehari-hari.

Asesmen yang Berfokus pada Kompetensi

Pesan yang disampaikan Ibu Itje Chodidjah di BBGP Provinsi Jawa Timur ini benar-benar membuka wawasan saya tentang hakekat asesmen yang sebenarnya. Asesmen bukan hanya soal memberikan nilai, tetapi lebih tentang memahami sejauh mana siswa telah mencapai kompetensi yang diharapkan. Penguasaan materi saja tidak cukup; yang terpenting adalah bagaimana siswa bisa menerapkan materi tersebut dalam kehidupan nyata dan bagaimana proses belajar mereka bisa memberikan makna yang lebih dalam.

Jadi, apakah seseorang yang menguasai teori menyetir mobil langsung bisa menyetir mobil? Tentu tidak. Begitu pula dengan pembelajaran. Menguasai materi bukanlah akhir dari proses belajar. Asesmen yang baik harus memastikan bahwa siswa benar-benar mampu menerapkan pengetahuan mereka, dan inilah yang menjadi inti dari pendidikan yang sesungguhnya.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Sangat menginspirasi

Burhan mengatakan...


Menyimak langsung videonya sungguh sangat menginspirasi dari awal video sampai akhir video isinya daging semua

Anonim mengatakan...

Very inspiring bu Itje

Anonim mengatakan...

Menyimak videonya langsung baru tahu kalau poin punya sangat penting sekali bagi seorang guru