Saya bersyukur sekali bisa menyimak ceramah yang sangat menginspirasi dari Ibu Itje Chodidjah di kantor BBGP Provinsi Jawa Timur. Dalam kesempatan tersebut, beliau berbicara tentang pentingnya membuat refleksi dan menuliskan perasaan, yang menurutnya merupakan salah satu cara terbaik untuk memanusiakan diri kita sebagai pendidik maupun sebagai manusia secara keseluruhan.
Ibu Itje memulai dengan sebuah pengakuan yang membuat banyak dari kami merenung: ternyata menyampaikan perasaan secara tertulis itu tidak mudah. Dalam ceramahnya, beliau mengingatkan bahwa rasa, atau perasaan, adalah elemen yang sering diabaikan dalam proses belajar-mengajar, padahal sangat penting.
Menuliskan Perasaan, Menyentuh Kemanusiaan
Lebih dari 40 tahun lalu, Ibu Itje sudah mulai menuliskan perasaannya saat mengajar, meskipun waktu itu belum populer istilah "refleksi." Beliau sering mencatat apa yang dirasakannya dalam sebuah buku kecil. Meski belum tahu persis kenapa ia melakukannya saat itu, sekarang, setelah bertahun-tahun, ia menyadari bahwa kebiasaan ini berperan penting dalam memanusiakan dirinya sebagai seorang guru.
"Menuliskan perasaan itu penting," ujar Ibu Itje, "karena perasaan adalah bagian dari kemanusiaan kita." Tanpa refleksi dan penghayatan akan apa yang kita rasakan, kita bisa lupa bahwa murid-murid di kelas juga manusia dengan perasaan yang sama seperti kita. Mereka tidak hanya butuh nilai bagus atau latihan soal, tetapi juga pengakuan atas perasaan mereka, sebuah aspek yang kadang terlupakan dalam pendidikan formal.
Refleksi: Mengingat Pentingnya Kemanusiaan di Kelas
Dalam sesi tersebut, Ibu Itje mengajak kami untuk melakukan sebuah latihan sederhana namun mendalam. Beliau meminta kami membayangkan bahwa tokoh inspiratif yang kami kagumi duduk di kelas saat kami mengajar, memperhatikan setiap langkah yang kami ambil. Beliau lalu mengajukan pertanyaan yang sangat menggugah: Apa yang akan tokoh inspiratif itu katakan setelah menyaksikan cara kita mengajar?
Bayangkan, tokoh yang sangat kita hormati duduk di belakang kelas, memperhatikan interaksi kita dengan murid-murid. Apa perasaan kita? Apa yang akan mereka katakan setelah melihat cara kita menangani siswa? Latihan ini menekankan pentingnya refleksi diri bagi seorang guru, untuk selalu mengevaluasi apakah cara kita mengajar benar-benar memanusiakan siswa atau justru terjebak dalam rutinitas yang kaku dan hanya berorientasi pada hasil.
Mengajarkan Siswa untuk Menuliskan Perasaan
Selain untuk guru, Ibu Itje juga menekankan pentingnya mengajari siswa untuk menuliskan perasaan mereka. Saat siswa belajar mengekspresikan apa yang mereka rasakan, mereka mulai menyadari pentingnya proses belajar yang lebih dari sekadar hafalan dan pengumpulan nilai. Mereka akan lebih terhubung dengan diri mereka sendiri dan dengan lingkungan belajar mereka.
"Ketika siswa mampu mengekspresikan perasaannya," lanjut Ibu Itje, "mereka akan lebih terhubung dengan proses belajar dan bisa lebih memahami pengalaman mereka dengan cara yang lebih mendalam." Refleksi ini bukan hanya membantu mereka belajar lebih baik, tapi juga membantu mereka tumbuh menjadi manusia yang lebih sadar akan diri sendiri dan orang lain.
Refleksi adalah Proses Memanusiakan Diri
Ceramah Ibu Itje Chodidjah di BBGP Provinsi Jawa Timur ini benar-benar membuka mata saya tentang betapa pentingnya membuat refleksi. Menuliskan perasaan bukan hanya latihan pribadi, tapi sebuah cara untuk menyadari bahwa pendidikan harus tetap memanusiakan kita, baik sebagai guru maupun sebagai siswa. Dengan menuliskan apa yang kita rasakan, kita menjadi lebih sadar akan proses yang kita jalani, hubungan yang kita bangun dengan siswa, dan dampak yang kita buat di dalam kelas.
Menjadi guru yang baik bukan hanya soal mengajar materi, tapi juga bagaimana kita membentuk karakter dan perasaan anak-anak di kelas. Dengan melakukan refleksi, kita bisa terus berkembang dan memastikan bahwa kita tetap memanusiakan setiap peserta didik yang ada di hadapan kita.
1 komentar:
Luar biasa pak Edwin, Terimakasih telah berbagi pengalaman. Tulisan bapak sangat menginspirasi.
Posting Komentar