Senin, 21 April 2025

Aku Juga Pernah Muda

 

 

Aku pernah muda… seperti kalian,
berjalan gagah dengan mata penuh cahaya harapan.
Langit terasa dekat, bumi seolah bisa kugenggam,
dunia kulukis dengan warna impian yang berani.

Aku pernah muda… seperti kalian,
mengukir cita di ujung pena,
berkata lantang ingin mengubah dunia,
menyulam idealisme menjadi bintang di dada.

Aku pernah muda… seperti kalian,
mengira waktu tak akan pernah kehabisan detik,
menganggap hari tua hanyalah legenda,
bab akhir yang belum layak dibaca.

Namun kini aku tahu...
masa depan kadang hanyalah fatamorgana,
indah di kejauhan, namun sirna saat didekati tanpa makna.
Dan yang sejatinya abadi bukan nama, bukan pujian manusia,
melainkan seberapa tulus niat yang kita bawa,
seberapa ikhlas amal yang tak disaksikan siapa-siapa,
dan seberapa dalam kita mengingat Tuhan
di tengah riuhnya dunia yang fana.

Aku pernah muda… seperti kalian,
dan kini kujalani hari dengan rambut yang mulai beruban,
dengan langkah yang tak secepat dulu,
namun hatiku masih ingin berlari.

Aku pernah muda… seperti kalian,
dan kini aku paham: hidup bukan soal seberapa tinggi kita terbang,
tapi seberapa banyak jejak yang meninggalkan kebaikan.
Bukan seberapa terang kita bersinar,
tapi seberapa lama cahaya itu dikenang saat kita telah tiada.

Aku pernah muda… seperti kalian,
dan di usia senja ini,
aku tak lagi mengejar dunia—
aku hanya ingin dikenang sebagai pelita,
yang menyala meski tak lagi tampak cahaya.

Tidak ada komentar: